Tuesday, 7 July 2015

Sanggar Anak Alam, Sekolah dengan Alam

Oleh: Qy Atqia*

PENDAHULUAN                                                                                                
Berbicara tentang pendidikan anak memang tak ada habisnya. Sebut saja contoh beberapa masalah terkait kurikulum yang selalu berubah setiap kali ada pergantian menteri, penambahan jam belajar sekolah plus beban tugas anak sekolah yang sangat menyita kesempatan bermain, membatasi ruang interaksi sosial anak dengan keluarga, teman sebaya di lingkungan terdekat, belum lagi akses pendidikan anak yang terbatas terhadap lembaga pendidikan. Kekhawatiran tersebut tentu saja sangat merisaukan beberapa orangtua yang anak-anaknya memasuki usia sekolah. 
Berangkat dari permasalahan pendidikan yang ruwet ini Sri Wahyaningsih menggagas perlunya ide-ide pendidikan yang sesungguhnya, yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi anak untuk bebas berekspresi dan bereksplorasi dalam menemukan pengetahuan, dengan memanfaatkan potensi lingkungan terdekat sebagai media belajar. Bu Wahya, begitu ia biasa disapa, dan beberapa orang yang juga memiliki keprihatinan yang sama tentang pendidikan di negeri ini mendirikan Sanggar Anak Alam (Salam) yang menadi sebuah perkumpulan yang bergerak di bidang pendidikan berbasis komunitas yang independen, terbuka dan tidak terikat dengan lembaga dana manapun, termasuk pemerintah.

Sunday, 5 July 2015

Peran Guru Dalam Pembangunan Kurikulum



Penulis: Andri Satria Wicaksana

Dalam kegiatan pembelajaran, interaksi antara pendidik dengan peserta didik merupakan hal pokok dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Interaksi tersebut dapat berlangsung diberbagai lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan yang bersifat formal berupa sekolah yang memiliki komponen kurikulum seperti metode, bahan ajar, penilaian, dan tujuan yang akan dicapai.
Peran guru dalam pembangunan kurikulum terpaut dalam perkembangan teknologi juga, maka program ajar dan materi untuk mengajar harus yang terbaru dengan susunan yang sistematik atas dasar norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga pengajar dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum berfungsi sebagai pedoman bagi guru dan sebagai implementasi dalam bentuk kegiatan pembelajaran dikelas. Guru merupakan factor penting dalam implemantasi kurikulum karena merupakan pelaksana kurikulum.

Friday, 3 July 2015

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru Yang Ideal

Oleh: Andri Satria Wicaksana
Pendidikan merupakan modal utama untuk hidup,mendapatkan pekerjaan,dan di pandang oleh masyarakat. Maka dalam memilih sekolah harus tepat dengan catatan sekolah yang mempunyai riwayat lulusan yang baik, dengan penerimaan peserta didik baru yang selektif akan menunjukan sekolah itu berkualitas. Didalam pendidikan ada masanya peserta didik baru yang kadang harus diseleksi dengan serius untuk mendapatkan siswa siwi  yang berbobot dalam sekolah atau perguruan tinggi agar menjadi sekolah favorit. Maka Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru  Yang Ideal harus ada dan maksimal.
Peserta didik yang akan masuk dalam suatu sekolah atau perguruan tinggi harus benar benar bersaing agar dapat masuk dalam sekolah atau perguruan tinggi yang memang disukainya, maka kriteria yang harus di capai meliputi nilai skor kelulusan dan nilai saat test. Dalam sistem penerimaan peserta didik baru tidak dimungkiri akan banyak yang tidak sesuai dengan harapan dan ada juga yang bisa masuk dalam sekolah atau perguruan tinggi harapannya.

Wednesday, 1 July 2015

Sejarah dan Konsep Postmodern



Nama    : Sofi Andriyanto

a.       Latar belakang
Postmodern merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan implikasi sosial budaya serta seni kontemporer yang berkembang pada akhir abad 20 dan awal abad 21. Perkembangan ini ditandai dengan globalisasi dan era konsumerisme. Postmodernisme juga digunakan untuk menandai periode seni, desain dan arsitektur yang dimulai pada tahun 1950-an sebagai respon terhadap gaya desain modernisme. Postmodernisme merupakan kritik terhadap modernisme dengan penolakan gaya hidup mapan generasi tua, sikap kritis yang mendukung paham atau isu-isu dunia ketiga, mengakomodir sikap individu akibat tren budaya massa dan melahirkan beberapa subbudaya diluar budaya utama.
Globalisasi sebagai fenomena kekinian yang membawa berbagai perubahan social dan pemahaman baru terhadap terciptanya pola-pola interaksi social, terutama karena topangan kemajuan teknologi komputerisasi dan internet. Manuel Castells (sosiolog, barcelona) melihat dimensi-dimensi utama dari perubahan sosial tersebut yang secara bersamaan menyatu dalam interaksi sosial di masyarakat dan merupakan struktur sosial yang baru, sebagai faktor yang mendasari lahirnya "masyarakat baru" (new society). Kemudian Castells menjabarkan tiga dimensi sosial yang melandasi terbentuknya masyarakat baru tersebut, yang dinamakannya masyarakat jejaring. Pertama, adalah paradigma teknologi baru yang didasari oleh penyebaran teknologi informasi. Dengan mengikuti Claude Fischer (1992), ia memahami teknologi sebagai budaya material ibarat proses sosial yang inheren dalam masyarakat, bukan sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi masyarakat. Dimensi kedua adalah globalisasi yang dipahami sebagai peningkatan kapasitas teknologi, organisasi, serta kelembagaan dari komponen inti sistem tertentu (semisal, ekonomi) sehingga bisa bekerja pada satu waktu yang bersamaan dan menjangkau skala luas mencakup seluruh jagat raya. Dan dimensi ketiga adalah wujud manifestasi budaya yang dominan pada sebuah hypertext, yaitu interaksi lewat perantara media elektronik, yang menjadi acuan dalam pengolahan simbolis dari semua sumber dan pesan. Jika dahulu teks standar menjadi acuan utama pada penyampaian pesan, maka hypertext bermakna juga multi-teks yaitu meliputi gambar, suara (audio-visual).

Friday, 5 June 2015

Model Pembelajaran Jigsaw untuk kuliah Kebidanan

Oleh: Octa Hairatul Jannah

Langkah-langkah penerapan Model Pembelajaran Jigsaw untuk kuliah Kebidanan, dapat di uraikan sebagai berikut (contoh untuk materi persalinan):

1.    Siswa di kelompokkan ke dalam 4 anggota tim
     Mahasiswa dalam satu kelas di bagi menjadi 4 kelompok,jumlah siswa 32 orang di bagi 4 kelompok masing- masing  mendapatkan anggota kelompok 8 orang
2.    Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
Memberikan materi pada tiap orang dalam tim seperti materi persalinan sebagai
berikut :
a.    Menjelaskan pengertian persalinan
b.    Sebab – sebab terjadi nya persalinan
c.    Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan
d.   Kebutuhan dasar pada ibu dalam proses persalinan
e.    Asuhan kebidanan kepada ibu bersalin kala I
f.     Asuhan kebidanan kepada ibu bersalin kala II
g.    Asuhan kebidanan kepada ibu bersalin kala III
h.    Asuhan kebidanan kepada ibu bersalin kala IV

Wednesday, 3 June 2015

Langkah-Langkah Umum Pembelajaran Dengan Pendekatan Saintifik

Penulis: Susi Febrianti

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam proses pembelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta.
Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan saintifik dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut:

Monday, 1 June 2015

Pengertian, Tujuan Dan Prinsip-Prinsip Dalam Penerapan Pedekatan Saintifik



Penulis: Rina Agustini

A.    DEFINISI PENDEKATAN SCIENTIFIC
Pendekatan dapat didefinisikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Definisi pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum (Kellen, dalam Rusman 2012:). Menurut Hamalik (2008:31), penggunaan suatu pendekatan pada umumnya menentukan bentuk dan pola yang dipergunakan oleh kurikulum. Adapun kurikulum 2013 yang sedang diimplementasikan saat ini menggunakan  jenis pendekatan scientific Pendekatan scientific pertama kali diperkenalkan di Amerika pada akhir abad ke-19, sebagai penekanan pada pendekatan laboratorium formalistik yang mengarah pada fakta-fakta ilmiah (Hudson, 1996:115). Pendekatan scientific ini memudahkan guru atau pengembang kurikulum untuk memperbaiki proses  pembelajaran, yaitu dengan memecah proses ke dalam langkah-langkah atau tahapan-tahapan secara terperinci yang memuat instruksi untuk siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran (Maria Varelas and Michael Ford, 2008:31). Hal inilah yang menjadi dasar dari pengembangan kurikulum 2013 di Indonesia.